Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Friday, July 25, 2014

5 Mitos Diabetes di Indonesia

 Diabetes adalah masalah serius. Namun banyak yang menganggap enteng. Dr. Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, KEMD - Staff divisi Metabolik Endokrin, Departemen IPD FKUI/RSCM mengatakan bahwa ada 5 mitos diabetes di Indonesia. Apa saja itu?
  1. Sulit memahami bahwa diabetes adalah masalah yang lama dan pelik
  2. Tidak akan berobat kalau tidak ada keluhan
  3. Berpikir bahwa bisa diobati dengan satu obat saja
  4. Berpikir bahwa obat untuk diabetes akan merusak ginjal
  5. Takut pada jarum

5 mitos diabetes di Indonesia ini terungkap dalam  acara Peluncuran New Accu –Chek Active Solusi Tepat Bagi Diabetisi di
Scusa Restaurant, Intercontinental Jakarta Mid Plaza Hotel pada Rabu 21 Mei 2014 lalu.
(Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Diabetes)

Maka pasien diabetes perlu aktif dalam mengendalikan gula darah. Salah satunya melalui aktivitas Swa Monitoring Gula Darah (SMGD).
Swa Monitoring Gula Darah (SMGD) terstruktur memiliki peran yang sangat penting bagi diabetisi.
SMGD berperan untuk memantau kadar gula darah dan memudahkan diabetisi maupun dokter dalam menyesuaikan dosis obat dan juga dapat membantu dalam program pengelolaan diabetes. Dengan demikian, kadar gula darah dalam tubuh dapat tetap terkontrol dengan baik untuk menghindari terjadinya komplikasi diabetes.

Monday, July 21, 2014

Sering Makan Tidak Teratur, Awas Diabetes

Dokter spesialis penyakit dalam dan diabetes Universitas Sumatera Utara, dr Dharma Lindarto SpPD-KEMD mengatakan, penyebab seseorang mengalami penyakit diabetes atau kencing manis, adalah pola makan tidak teratur dan gizi kurang seimbang.
"Orang yang terkena penyakit diabetes ini juga tidak pandang bulu, baik berusia muda maupun dewasa, warga negara mana maupun warna kulit," katanya dalam ceramah awam diabetes di kantor Gubernur Sumatera Utara, Senin.
Kegiatan tersebut merupakan kerja sama Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Cabang Medan Dalam Rangka Hari Ulang Tahun ke-65 Pemprov Sumut.
Dharma mengatakan, diabetes adalah suatu kondisi gangguan metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah atau "hiperglikemia".
Diabetes tersebut, menurut dia, disebabkan karena tubuh kekurangan insulin atau jumlah insulinnya cukup, namun tidak mampu bekerja dengan baik.
"Insulin berfungsi untuk menurunkan kadar gula dalam darah, yang bekerja dengan cara merangsang sel-sel tubuh agar menyerap gula, dan meningkatkan jumlah gula yang disimpan dalam hati.Mencegah hati mengeluarkan terlalu banyak gula," ujarnya.
Dia menyebutkan, ciri-ciri gejala diabetes itu, mudah haus dan lapar, sering buang air kecil, berat badan berkurang tanpa sebab yang jelas, dan cepat lelah dan mengantuk.
Gejala lain yang mungkin timbul, yakni mudah terkena infeksi, luka sulit sembuh, sering kesemutan terutama di kaki, sering timbul bisul, dan penglihatan kabur.
Lebih lanjut Dharma mengatakan, pemeriksaan gula darah secara mandiri merupakan usaha yang terpenting dalam pengendalian diabetes.

Selanjutnya, jelasnya, untuk mencapai gula darah yang terkendali, lakukan pemeriksaan gula darah beberapa kali sehari atau sesuai petunjuk dokter.
Diet atau pola makan yang seimbang, olahraga, secara teratur dan disiplin dalam minum obat.
"Mencatat dan mengevaluasi hasil tes gula darah dengan catatan harian atau memantau gula darah terakhir," kata alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) itu. (vemale)

Monday, July 7, 2014

Diabetes Bukan Selalu Soal Gula

Sebagai orang Jawa, tradisi ngeteh di pagi dan sore hari, rasanya sulit untuk ditinggalkan. Secangkir teh dengan tiga sendok kecil gula pasir atau sebongkah gula batu,hem.. rasanya nikmat sekali, apalagi ditemani pisang goreng, ubi goreng, atau singkong goreng. Namun, beberapa hari belakangan Ibu mengingatkan, “Jangan kebanyakan minum yang manis-manis lo, nanti diabetes.”
Diabetes selama ini dikenal sebagai penyakit yang identik dengan kelebihan gula. Maka yang sering kita dengar –  jika tidak ingin mengidap diabetes –  adalah anjuran “hindari gula dan semua makanan yang manis-manis.” Bahkan juga disarankan untuk membatasi konsumsi nasi, roti, pasta, serta berbagai makanan sumber karbohidrat lainnya, yang bersifat melonjakkan kadar gula darah dengan cepat.
Padahal, seperti dikatakan dr. Budiman Darmowidjojo, Sp.PD, dari Divisi Endokrinologi dan Metabolisme Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta, pada sebuah seminar, diabetes tidak berhubungan dengan kebanyakan makan gula. Seseorang didiagnosis diabetes ketika tubuhnya tidak cukup menghasilkan insulin atau tidak menggunakan insulin yang ada dengan benar. Jadi, tidak benar penyakit ini timbul karena kebanyakan makan makanan manis.
Dalam keadaan normal, sehari-hari orang membutuhkan nutrisi yang terdiri atas karbohidrat, protein,  lemak, vitamin, dan mineral.
Karbohidrat diperlukan untuk energi dan setiap gramnya mengandung 4 kalori. Protein dibutuhkan untuk membangun otot-otot dan jaringan, di samping untuk membangkitkan energi. Tiap gram protein mengandung 4 kalori. Lemak juga diperlukan untuk membangkitkan energi. Setiap gram menghasilkan 9 kalori dan sebagian disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari.
Karbohidrat didapat dari gula dan zat tepung yang kemudian dalam tubuh dipecah menjadi glukosa. Selanjutnya oleh insulin, karbohidrat diolah supaya dapat diterima hati (sebagai depot glukogen), otot-otot, dan jaringan lemak. Sebagian langsung digunakan sebagai sumber energi.
Protein merupakan sumber energi yang penting dan terdapat dalam daging, makanan laut, telur, serta susu. Dalam tubuh, protein dipecah menjadi asam-asam amino. Protein dapat pula digunakan sebagai energi yang sebagian disimpan dalam hati, otot-otot, dan jaringan lemak. Untuk itu, diperlukan insulin.
Lemak juga digunakan sebagai sumber energi. Seperti halnya karbohidrat dan protein, lemak memerlukan insulin supaya dapat diterima oleh tubuh dan disimpan dalam jaringan otot.
Pada orang yang sehat, pankreas dapat menghasilkan cukup insulin untuk mengolah makanan menjadi sumber energi dan menyimpannya dalam tubuh. Sementara pada seorang penderita diabetes melitus, pankreas kurang atau hampir sama sekali tidak berfungsi untuk mengeluarkan insulin sehingga makanan tidak dapat digunakan sebagai energi. Hal ini dapat mengakibatkan kadar glukosa meningkat dan glukosa akan dikeluarkan melalui ginjal dalam urine.
Tentu saja, menghindari gula dan makanan yang manis-manis, memang tidak sepenuhnya salah. Jika asupan gula dibatasi, gejala diabetes berupa melonjaknya kadar gula darah bisa dikendalikan. Namun, yang perlu diketahui, yang membuat kadar gula darah meningkat bukan hanya gula dan makanan serba manis,  melainkan juga lemak.
Sebuah penelitian menunjukkan, untuk setiap kelebihan 40 gram lemak yang kita makan dalam sehari, risiko menderita diabetes bisa meningkat tiga kali lipat. Dan bila sudah menderita diabetes, tentu saja penderita berpeluang besar mengalami komplikasi. Hal ini terjadi karena lemak tubuh membuat sel-sel menolak insulin.
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghindari diabetes tentu saja mengubah pola makan, disamping tetap melakukan olahraga secara teratur dan menjaga berat badan tetap normal. Pola makan yang sehat tentunya terfokus pada buah-buahan dan sayur-sayuran.
Memenuhi prinsip gizi sehat dan seimbang adalah cara menerapkan pola makan yang sehat. Cukupi asupan karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral, yang berasal dari sumber makanan terbaik. Karbohidrat yang berkualitas, misalnya, bukan hanya ditentukan dari indeks glikemiknya yang rendah, melainkan juga kandungan antioksidannya yang tinggi dan memiliki sifat basa, agar lebih mudah dicerna oleh tubuh.


Lebih disarankan karbohidrat yang berasal dari sayuran karena mengandung 30% fruktosa, sementara buah mengandung 70% fruktosa (gula buah). Bila kebiasaan kita adalah makan nasi, maka sebaiknya porsi sayuran ditambahkan melebihi porsi sehari-hari, dan disantap terlebih dahulu. Karena sudah merasa kenyang setelah menyantap sayuran, bisa jadi kita mengurungkan niat untuk menyantap nasinya.
Kemudian, pilih lemak yang baik, terutama yang mengandung asam lemak esensial. Sumber lemak ini misalnya didapat dari avokad, minyak zaitun, serta ikan laut dalam. Protein tidak melulu hanya dari daging merah dan susu saja, tapi bisa juga diperoleh dari lainnya, misalnya dengan mengoptimalkan asupan nutrisi dari ayam, ikan, telur, atau jamur.
Perhatikan pula cara pengolahan makanan. Sajikan makanan sesegar mungkin, bukan yang sudah dipanaskan berulang-ulang atau diproses secara berlebihan. Olah dengan berbagai bumbu alami,  seperti kunyit, jintan, jahe, lengkuas, ketumbar, cabai, yang tidak hanya mengandung senyawa berkhasiat, namun juga menggugah selera makan.
Jangan lupa, air putih. Penuhi kebutuhan air putih kita. Air putih bukan hanya mengatasi keinginan makan berlebihan, melainkan juga bermanfaat untuk membantu kelancaran proses pencernaan. Disarankan untuk makan setiap empat atau lima jam dalam porsi kecil. Yang terpenting adalah mengatur kalori total yang masuk.
Sayangi diri kita sendiri dengan menjaga gaya hidup yang sehat, yaitu mengikuti pola makan, olahraga, istirahat, serta menghindari stres agar terhindar dari penyakit diabetes melitus. Kalaupun sudah terjadi, dengan gaya hidup sehat, niscaya kadar gula darah dapat dikendalikan hingga tidak menyebabkan komplikasi. (intisari)

Friday, June 13, 2014

Cegahlah Diabetes Sebelum Terlambat


Seperti dilansir dari Foxnews.com bahwa Diabetes merupakan epidemi abad ke-21. Badan Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan, saat ini terdapat 346 juta orang yang menderita penyakit ini. Di Indonesia, pada tahun 2020 diperkirakan ada 12 juta orang menderita diabetes. 

Pertambahan pesat jumlah penderita diabetes ini dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain pola hidup tidak sehat, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi lemak, gula, garam, serta kurang serat sehingga terjadi obesitas. 

Penderita diabetes tipe 2 kini juga bukan hanya pada orang dewasa. Padahal 20 tahun lalu, sangat jarang ditemui orang muda yang menderita penyakit ini.


Banyak orang yang masih menganggap remeh penyakit diabetes, padahal penyakit ini bisa merenggut penglihatan, ginjal, bahkan memicu kematian. Penderita diabetes juga menghadapi risiko stroke lima kali lebih tinggi dibanding orang yang tidak terkena diabetes. 

Kabar baiknya, diabetes tipe 2 bisa dicegah dengan perubahan gaya hidup. Beberapa penelitian menyimpulkan ada 5 kebiasaan sehat yang bisa mengurangi risiko seseorang menderita diabetes sampai 80 persen. 

Ini adalah gaya hidup yang sebaiknya harus Anda miliki:



- Jaga berat badan ideal.

- Menghindari rokok.

- Kurangi asupan alkohol.


- Pola makan sehat dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah.

- Olahraga 3 kali dalam seminggu, masing-masing setidaknya 20 menit.

Meski demikian, para ahli berpendapat satu faktor utama yang harus diperhatikan adalah menjaga berat badan tetap normal. Pria yang memiliki berat badan normal risikonya 70 persen lebih rendah untuk menderita diabetes dibandingkan dengan pria obesitas. Sementara wanita yang berat badannya normal risikonya 78 persen lebih rendah. 

Selain itu, lakukan deteksi dini atau pemeriksaan kadar gula darah secara teratur. Jika kondisi pradiabetes (kadar gula darah tinggi tapi belum termasuk diabetes) diketahui, perubahan gaya hidup bisa mencegah seseorang masuk dalam kategori diabetes.