Friday, July 11, 2014

Pilah Pilih Makanan Aman Penderita Diabetes

Makanan seperti apa yang tingkat indeks glikemik (IG) dan glycemic load (GL)-nya aman bagi penderita diabetes?



IG & GL tinggi
Makanan IG & GL yang tinggi akan membuat gula darah melonjak. Lonjakannya akan bertahan selama 3 jam. Makanan ini segera menaikkan gula darah dan karena di balik kenaikan tersebut terdapat power untuk mempertahankan lonjakan.
Makanan dengan IG & GL tinggi akan membuat kadar gula darah puasa maupun 2 jam sesudah makan tetap tinggi sekalipun makanan tersebut dikonsumsi dalam porsi kecil.
Contoh makanan dengan IG & GL tinggi adalah makanan manis seperti sirup, softdrink, dan makanan sumber karbohidrat simpleks (tepung) seperti kue kering dan tart.

IG tinggi, GL rendah
Makanan IG tinggi, GL rendah seperti wortel impor atau kentang hanya akan meningkatkan kadar gula darah sesaat tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar gula darah 2 – 3 jam sesudah makan. Makanan ini tidak memiliki power untuk mempertahankan lonjakan kenaikan gula darah walau IG-nya tinggi. Namun, jika makanan tersebut dikonsumsi bersama makanan ber-GL tinggi seperti jus buah tanpa gula, maka akan terjadi kenaikan gula darah dalam waktu 2 – 3 jam sesudah makan.

IG rendah, GL tinggi
Makanan dengan IG rendah, GL tinggi dapat menaikkan gula darah tetapi kenaikannya hanya terjadi jika bahan makanan tersebut dikonsumsi dengan porsi besar.  Contohnya, jus buah tanpa gula.
Minuman seperti ini tidak menaikkan kadar gula darah seketika bila tidak mengandung sukrosa ataupun glukosa, sementara kandungan fruktosa (gula buah)-nya cukup besar sehingga dapat menaikkan kadar gula darah setelah 2 – 3 jam jika dikonsumsi dalam porsi cukup besar.

IG & GL rendah
Inilah jenis makanan terbaik untuk mengurangi kemungkinan lonjakan kenaikan gula darah seketika sesudah makan maupun kenaikan kadar gula darah 2 – 3 jam sesudah makan. Conoh makanan seperti ini adalah kedelai.
Beberapa penelitian terhadap sejumlah diabetesi memperlihatkan mereka yang mengonsumsi camilan dari kedelai seperti tahu dan tempe, kadar gula darah 2 jam sesudah makan sedikit lebih rendah daripada kadar gula darah puasa.
Jenis makanan ini sering digunakan sebagai suplemen dalam mengombinasikan makanan untuk mencegah kenaikan gula darah. Formula susu diabetes yang sengaja diproduksi untuk mengendalikan gula darah, salah satu contohnya.

Wednesday, July 9, 2014

Matahari Pagi Baik Untuk Penderita Diabetes

Sinar matahari pagi memliki banyak manfaat bagi tubuh manusia. Sinar matahari sebelum pukul 09.00 dapat menurunkan kadar kolesterol darah, meningkatkan kualitas pernapasan, membuat tubuh menjadi lebih segar serta baik untuk kesehatan tulang. Tidak hanya itu, sinar matahari cukup bermanfaat bagi penderita diabetes. Vitamin D pada sinar matahari dapat membantu meningkatkan kadar gula darah.
Sebuah penelitian baru menemukan bahwa vitamin D yang tubuh dapatkan dari sinar matahari pagi dapat membantu penderita diabetes tipe 2 dalam meningkatkan kadar gula darah mereka. Vitamin D bisa membantu sel-sel dalam tubuh yang bertugas memproduksi insulin untuk bekerja dengan baik.
Para peneliti dari Iran yang melibatkan 90 orang dengan diabetes tipe 2 selama 12 minggu dengan pemberian vitamin D dan satu kelompok diberi vitamin D ditambah kalsium.
Para peneliti menemukan bahwa peserta yang mengambil vitamin D dengan atau tanpa kalsium memiliki tingkat gula darah yang secara signifikan lebih baik.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Esther Krug, MD, ahli endokrinologi dari Rumah Sakit Sinai di Baltimore, yang mengatakan bahwa vitamin D memiliki peran aktif dalam mengatur sel beta pankreas yang berfungsi untuk membuat insulin, seperti dikutip oleh Men's Health.
Studi lain yang diterbitkan dalam Diabetes Care menunjukkan rendahnya tingkat vitamin D yang dapat membuat orang dewasa berisiko prediabetes dan prehipertensi.
Selain itu, mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin D dan kalsium dapat memperlambat perkembangan diabetes tipe 2. Karena hubungan ini, skrining defisiensi vitamin D pada orang dengan diabetes tipe 2 bisa dilakukan.

Ayo, berjemur sekarang! (intisari)

Monday, July 7, 2014

Diabetes Bukan Selalu Soal Gula

Sebagai orang Jawa, tradisi ngeteh di pagi dan sore hari, rasanya sulit untuk ditinggalkan. Secangkir teh dengan tiga sendok kecil gula pasir atau sebongkah gula batu,hem.. rasanya nikmat sekali, apalagi ditemani pisang goreng, ubi goreng, atau singkong goreng. Namun, beberapa hari belakangan Ibu mengingatkan, “Jangan kebanyakan minum yang manis-manis lo, nanti diabetes.”
Diabetes selama ini dikenal sebagai penyakit yang identik dengan kelebihan gula. Maka yang sering kita dengar –  jika tidak ingin mengidap diabetes –  adalah anjuran “hindari gula dan semua makanan yang manis-manis.” Bahkan juga disarankan untuk membatasi konsumsi nasi, roti, pasta, serta berbagai makanan sumber karbohidrat lainnya, yang bersifat melonjakkan kadar gula darah dengan cepat.
Padahal, seperti dikatakan dr. Budiman Darmowidjojo, Sp.PD, dari Divisi Endokrinologi dan Metabolisme Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta, pada sebuah seminar, diabetes tidak berhubungan dengan kebanyakan makan gula. Seseorang didiagnosis diabetes ketika tubuhnya tidak cukup menghasilkan insulin atau tidak menggunakan insulin yang ada dengan benar. Jadi, tidak benar penyakit ini timbul karena kebanyakan makan makanan manis.
Dalam keadaan normal, sehari-hari orang membutuhkan nutrisi yang terdiri atas karbohidrat, protein,  lemak, vitamin, dan mineral.
Karbohidrat diperlukan untuk energi dan setiap gramnya mengandung 4 kalori. Protein dibutuhkan untuk membangun otot-otot dan jaringan, di samping untuk membangkitkan energi. Tiap gram protein mengandung 4 kalori. Lemak juga diperlukan untuk membangkitkan energi. Setiap gram menghasilkan 9 kalori dan sebagian disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari.
Karbohidrat didapat dari gula dan zat tepung yang kemudian dalam tubuh dipecah menjadi glukosa. Selanjutnya oleh insulin, karbohidrat diolah supaya dapat diterima hati (sebagai depot glukogen), otot-otot, dan jaringan lemak. Sebagian langsung digunakan sebagai sumber energi.
Protein merupakan sumber energi yang penting dan terdapat dalam daging, makanan laut, telur, serta susu. Dalam tubuh, protein dipecah menjadi asam-asam amino. Protein dapat pula digunakan sebagai energi yang sebagian disimpan dalam hati, otot-otot, dan jaringan lemak. Untuk itu, diperlukan insulin.
Lemak juga digunakan sebagai sumber energi. Seperti halnya karbohidrat dan protein, lemak memerlukan insulin supaya dapat diterima oleh tubuh dan disimpan dalam jaringan otot.
Pada orang yang sehat, pankreas dapat menghasilkan cukup insulin untuk mengolah makanan menjadi sumber energi dan menyimpannya dalam tubuh. Sementara pada seorang penderita diabetes melitus, pankreas kurang atau hampir sama sekali tidak berfungsi untuk mengeluarkan insulin sehingga makanan tidak dapat digunakan sebagai energi. Hal ini dapat mengakibatkan kadar glukosa meningkat dan glukosa akan dikeluarkan melalui ginjal dalam urine.
Tentu saja, menghindari gula dan makanan yang manis-manis, memang tidak sepenuhnya salah. Jika asupan gula dibatasi, gejala diabetes berupa melonjaknya kadar gula darah bisa dikendalikan. Namun, yang perlu diketahui, yang membuat kadar gula darah meningkat bukan hanya gula dan makanan serba manis,  melainkan juga lemak.
Sebuah penelitian menunjukkan, untuk setiap kelebihan 40 gram lemak yang kita makan dalam sehari, risiko menderita diabetes bisa meningkat tiga kali lipat. Dan bila sudah menderita diabetes, tentu saja penderita berpeluang besar mengalami komplikasi. Hal ini terjadi karena lemak tubuh membuat sel-sel menolak insulin.
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghindari diabetes tentu saja mengubah pola makan, disamping tetap melakukan olahraga secara teratur dan menjaga berat badan tetap normal. Pola makan yang sehat tentunya terfokus pada buah-buahan dan sayur-sayuran.
Memenuhi prinsip gizi sehat dan seimbang adalah cara menerapkan pola makan yang sehat. Cukupi asupan karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral, yang berasal dari sumber makanan terbaik. Karbohidrat yang berkualitas, misalnya, bukan hanya ditentukan dari indeks glikemiknya yang rendah, melainkan juga kandungan antioksidannya yang tinggi dan memiliki sifat basa, agar lebih mudah dicerna oleh tubuh.


Lebih disarankan karbohidrat yang berasal dari sayuran karena mengandung 30% fruktosa, sementara buah mengandung 70% fruktosa (gula buah). Bila kebiasaan kita adalah makan nasi, maka sebaiknya porsi sayuran ditambahkan melebihi porsi sehari-hari, dan disantap terlebih dahulu. Karena sudah merasa kenyang setelah menyantap sayuran, bisa jadi kita mengurungkan niat untuk menyantap nasinya.
Kemudian, pilih lemak yang baik, terutama yang mengandung asam lemak esensial. Sumber lemak ini misalnya didapat dari avokad, minyak zaitun, serta ikan laut dalam. Protein tidak melulu hanya dari daging merah dan susu saja, tapi bisa juga diperoleh dari lainnya, misalnya dengan mengoptimalkan asupan nutrisi dari ayam, ikan, telur, atau jamur.
Perhatikan pula cara pengolahan makanan. Sajikan makanan sesegar mungkin, bukan yang sudah dipanaskan berulang-ulang atau diproses secara berlebihan. Olah dengan berbagai bumbu alami,  seperti kunyit, jintan, jahe, lengkuas, ketumbar, cabai, yang tidak hanya mengandung senyawa berkhasiat, namun juga menggugah selera makan.
Jangan lupa, air putih. Penuhi kebutuhan air putih kita. Air putih bukan hanya mengatasi keinginan makan berlebihan, melainkan juga bermanfaat untuk membantu kelancaran proses pencernaan. Disarankan untuk makan setiap empat atau lima jam dalam porsi kecil. Yang terpenting adalah mengatur kalori total yang masuk.
Sayangi diri kita sendiri dengan menjaga gaya hidup yang sehat, yaitu mengikuti pola makan, olahraga, istirahat, serta menghindari stres agar terhindar dari penyakit diabetes melitus. Kalaupun sudah terjadi, dengan gaya hidup sehat, niscaya kadar gula darah dapat dikendalikan hingga tidak menyebabkan komplikasi. (intisari)

Saturday, July 5, 2014

Mengenal Lebih Dekat Diabetes

Jika Ayah dan ibu mengidap diabetes tentu sebagai anaknya, pasti punya kekhawatiran juga akan menderita penyakit ini. Bagaimana cara mencegahnya?


Memang, keluarga diabetes akan menurunkan anak-anak diabetes juga. Diabetes atau kencing manis terjadi jika pankreas tidak mampu menghasilkan hormon insulin atau ketika sel-sel tubuh menjadi tidak responsif terhadap efek insulin.
Biasanya, ketika kita makan, partikel-partikel makanan gula diserap ke dalam aliran darah dari usus kecil. Sel-sel yang membentuk otot dan organ membutuhkan gula untuk energi. Tapi gula tidak bisa memasuki sel tanpa bantuan insulin.
Pada saat gula memasuki aliran darah, secara bersamaan pankreas mengeluarkan insulin masuk ke dalam darah. Dengan bantuan insulin, gula bisa memasuki sel-sel tubuh. Dengan demikian, jumlah gula dalam darah akan berkurang. Tapi, tanpa insulin gula akan tetap berada dalam darah dan tidak bisa memasuki sel yang membutuhkannya.
Ada dua macam penyakit diabetes: (1) diabetes tipe 1 yang penderitanya tergantung insulin karena kadar insulinnya rendah, (2) diabetes tipe 2, penderitanya tak tergantung insulin karena kadar insulinnya normal.
Diabetes tipe 1 muncul di saat penderita belum berusia 30 tahun. Ini disebabkan oleh kurangnya jumlah insulin yang diproduksi pankreas. Untuk itu, penderita setiap hari harus mendapatkan suntikan insulin selama hidupnya. Gejala diabetes tipe 1 biasanya muncul secara tiba-tiba seperti haus dan lapar luar biasa, sering buang air kecil, berat badan turun tanpa sebab, lemas, dan lelah.
Sedangkan diabetes tipe 2 muncul setelah penderita dewasa, biasanya di atas usia 40 tahun dan umumnya bertubuh gemuk. Penyebab diabetes ini lebih karena tubuh tidak merespon secara wajar insulin yang dibuat.
Cara Mengatasi:
  • Tanpa Obat
    Aturlah porsi makanan supaya tidak melebihi kebutuhan kalori tubuh. Misalnya saja, mengatur jadwal makan secara teratur, perbanyak makanan berserat (sayuran, polong-polongan, dan gandum), kurangi makanan berlemak dan kaya protein, serta alkohol. Jaga agar tubuh tidak terlalu gemuk.
    Lakukan olahraga secara teratur sehingga kadar gula darah bisa terkendali, bahkan bisa meningkatkan efek insulin yang digunakan pada penderita diabetes tipe 1.
    Ingin mencoba obat tradisional? Anda dapat mengonsumsi ramuan bidara upas (Merremia mammosa, Hall. f). Cuci bersih 100 g bidara upas segar, lalu parut. Tambahkan sedikit air, lalu peras. Minum ramuan ini sekaligus setiap pagi, saat perut masih kosong.

    Cara lain, 10 biji jamblang (Eugenia cumini, Merr atau Syzygium jambolanum, Miq.) ditumbuk halus lalu diseduh dengan 1 gelas air. Minum ramuan ini 3 x sehari masing-masing 1 gelas.
  • Obat/Tindakan Dokter
    Penderita diabetes tipe 1 ada yang diberi suntikan insulin setiap hari. Sedangkan penderita yang tidak perlu diberi suntikan insulin, cukup minum pil antidiabetes saja. Mereka yang disuntik atau makan obat diabetes harus makan sesuai diet, sebab kalau kurang makan juga berbahaya.
    Obat akan menurunkan gula dalam darah. Oleh karenanya itu, mereka yang minum obat diabetes harus makan sesuai anjuran agar kadar gula tidak turun terlalu rendah hingga pasien mengalami syok hipoglikemi. Gejala kurang gula (hipoglikemi) pada pasien diabetes adalah keringat dingin, lemas, dan gemetar. Bila mengalami hal tersebut, penderita harus segera minum air gula sebab kalau tidak bisa menimbulkan kematian.
    Keadaan hipoglikemi lebih berbahaya daripada keadaan kadar gula tinggi (hiperglikemi) karena kerusakan organ-organ tubuh akan segera terjadi. Sedangkan pada diabetes, kerusakaan organ-organ tubuh memerlukan waktu lama. (Penyakit, Terapi, dan Obatnya 1 dari intisari-online)
Bisa juga terapi dengan obat deiabetes herbal dari Tiens.

Friday, July 4, 2014

Puasa Dapat Membantu Mencegah Diabetes Dan Penyakit Jantung

Puasa Ramadan sudah tiba. Entah kenapa, banyak yang berpikir bahwa puasa bisa menimbulkan sakit, sehingga banyak iklan menawarkan suplemen dan sebagainya. Padahal, puasa justru bisa membuat tubuh Anda sehat. Tubuh mengalami regenerasi dan perbaikan kembali dari dalam dengan bantuan puasa, terutama bagi mereka yang memiliki kadar gula darah tinggi.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Intermountain Heart Institute, Utah, menemukan bahwa orang-orang yang memiliki kadar gula darah tinggi, dapat terhindar dari diagnosis diabetes dengan bantuan puasa. Puasa secara teratur dapat menurunkan kadar gula darah dan membuatnya normal, dilansir oleh newsmaxhealth.com.

Menurunkan Risiko Diabetes Dan Penyakit Jantung
Puasa dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan, terutama bagi mereka yang berpotensi tinggi memiliki risiko diabetes dan penyakit jantung.

"Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa puasa rutin dapat menurunkan risiko diabetes dan penyakit yang berhubungan dengan jantung," ujar Benjamin Horne, kepala penelitian. "Bisa dikatakan, puasa memiliki dampak mengurangi risiko diabetes dan mengatasi masalah metabolisme," lanjutnya.

Puasa yang disarankan oleh para peneliti adalah sekitar 10 hingga 12 jam setiap hari. Selain dapat membuat kadar gula normal, puasa teratur juga dapat menurunkan kadar kolesterol jahat hingga 12 persen.

Sekarang Anda makin yakin akan manfaat puasa bukan? Mari sambut Ramadan bagi Anda yang akan menjalankan ibadah puasa. Semoga bermanfaat.

Obat Herbal Tidak Aman Untuk Penyembuhan Diabetes, Benarkah?

Pembahasan tentang penyembuhan diabetes memang selalu jadi topik yang menarik untuk disimak. Sebagaimana kita ketahui, Diabetes Melitus (Kencing Manis) adalah penyakit di mana kadar glukosa di dalam darah menjadi sangat tinggi. Penyebabnya antara lain adalah karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin dengan cukup.
Insulin sendiri adalah hormon yang dilepas oleh pankreas, dan menjadi zat utama yang berperan mempertahankan kadar gula darah yang. Insulin menyebabkan gula berpindah ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. So, bayangkan saja bagaimana jadinya tubuh Anda jika tanpa insulin.
Dewasa ini, penyembuhan herbal memang cukup populer dilakukan oleh banyak orang yang mengalami diabetes. Namun para ahli medis malah mengatakan bahwa obat herbal bukan penyembuh yang baik, tak hanya untuk diabetes, namun juga untuk penyakit manapun. Alasannya memang jelas, obat herbal belum melalui uji klinis untuk menentukan kandungan apa saja yang ada di dalamnya. Tak heran jika banyak dokter yang tak menyarankan pasiennya untuk melakukan pengobatan herbal.
Meski demikian, hal ini tak menyurutkan para pasien diabetes untuk melakukan konsumsi herbal. Pasalnya, selain murah dan akrab dengan kehidupan sehari-hari, obat herbal juga dikenal minim efek samping sehingga mereka tak khawatir menggunakannya. Apakah Anda akan melakukan pengobatan herbal? Terserah Anda, pastinya. (vemale)

Teman-teman bisa coba obat herbal tiens dari kami yaitu Obat Herbal Diabetes Tiens yang terdiri dari Diacont, Chitosan, dan Shutang Calcium.




8 Faktor Pemicu Diabetes

Penyakit diabetes tipe 2 sering tidak terdeteksi pada tahap awal. Akibatnya, penderita diabetes baru banyak terdeteksi menderita serangan jantung, kebutaan, amputasi, sampai kematian akibat diabetes.
Dengan jumlah kasus mencapai 90% dari semua jenis diabetes, diabetes tipe 2 jenis yang paling umum diderita. Diabetes tipe ini terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan insulin yang cukup atau tubuh berhenti merespon insulin, sehingga memicu tingginya tingkat glukosa dalam darah.

Ada beberapa hal yang tanpa disadari membuat seseorang lebih tinggi berisiko terkena diabetes. Jika Anda secara teratur tidur kurang dari lima jam sehari, risiko terkena diabetes dua kali lipat dibandingkan mereka yang tidur 7 – 8 jam setiap malam.
Berikut ini beberapa penyebab seseorang dapat berisiko terkena diabetes, seperti dilaporkan oleh Daily Mail.


  1. Bentuk tubuh apel
    Ukuran pinggang yang semakin lebar beberapa kilogram bisa menyebabkan risiko diabetes tipe 2. Seorang wanita berisiko jika pinggang mereka diukur lebih dari 80 cm. Pria Asia berisiko tinggi jika ukuran pinggang mereka lebih dari 90 cm.
  2. Kurang tidur
    Jika seseorang secara teratur tidur kurang dari 5 jam sehari, maka mereka berisiko dua kali terkena diabetes dibandingkan mereka yang tidur 7 – 8 jam sehari. Kurangnya istirahat akan mengganggu irama sirkadian tubuh, jam internal yang mengatur tidur dan siklus bangun secara alami. Dan ini diyakini melepaskan hormon stres terlalu banyak.
  3. Kista ovarium
    Sebanyak 10% pasien dengan sindrom ovarium polikistik bisa menyebabkan diabetes tipe 2. Seperti diabetes, sindrom ovarium polikistik berhubungan dengan ketidakseimbangan insulin. Jika terlalu banyak insulin dalam darah, ovarium memproduksi hormon testosteron terlalu banyak, sehingga gejala seperti pertumbuhan rambut yang berlebihan, jerawat, kenaikan berat badan, dan depresi. Peningkatan kadar insulin akan merusak ovarium dan pankreas, dan menyebabkan diabetes.
  4. Kehamilan
    Meskipun masih menjadi perdebatan, para ilmuwan menemukan bahwa satu dari 20 wanita hamil mengalami diabetes gestasional. Wanita hamil memproduksi gula ekstra untuk membantu janin tumbuh, sehingga mengganggu keseimbangan glukosa insulin normal, dan umumnya melahirkan bayi dengan ukuran lebih besar.

  5. Mendengkur
    Meskipun akan sembuh dengan sendirinya setelah melahirkan, wanita yang mengalami diabetes gestasional memiliki risiko lebih dari 7 kali lebih tinggi terkena diabetes di masa depan.Sebuah penelitian di Yale menunjukkan masalah mendengkur yang sudah parah, menciptakan peluang dari kadar gula darah yang lebih tinggi. Pendengkur berat lebih mungkin berisiko diabetes sebesar 50%. Salah satu faktor risiko mendengkur adalah kelebihan berat bedan, yang juga pertanda untuk diabetes tipe 2. Namun, ilmuwan mengklaim bahwa menurunnya saluran udara dapat menyebabkan peningkatan tingkat kortisol, yang menyebabkan tingkat glukosa meningkat.
  6. Melewatkan sarapan
    Penelitian di Australia menemukan bahwa orang yang melewatkan sarapan cenderung mengalami penurunan mendadak pada gula darah di pagi hari, sehingga mereka lebih sering makan makanan manis. Inilah yang menyebabkan gula darah meningkat tiba-tiba dan merangsang insulin. Akibatnya sel-sel tubuh resisten terhadap efek dari hormon yang memungkinkan terjadinya diabetes.
  7. Minum jus buah
    Sebuah penelitian dari 70.000 wanita yang minum sekitar 180 ml jus buah per hari, berisiko 18% lebih besar terkena diabetes. Gula alami dalam buah-buahan sangat cepat diserap melalui perut, menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Namun, makan buah ketimbang jus akan memperlambat penyerapan karena serat membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna.
  8. Shift kerja
    Bekerja shift dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko seseorang mengembangkan diabetes tipe 2 sebesar 50%. Sebuah penelitian terbaru di Harvard University menemukan bahwa para pekerja yang bekerja malam hari dan sistem shift berisiko. Seperti halnya kurang tidur, shift kerja berpengaruh pada terganggunya irama sirkadian tubuh. (intisari)